"Berbolak-baliknya Hati Manusia"
Faedah Ilmiah yang Berserakan (15)
Oleh :
Ust. Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc.
_hafizhahullah_
@abu.faizah03
Hati manusia amat cepat mengalami
perubahan, laksana angin di langit. Allah -Azza wa Jalla- bolak-balikkan sesuai
kehendaknya.
Karenanya, mintalah kepada Allah
agar hati ditegarkan di atas sunnah dan dimatikan di atasnya.
Abu Hamid Ahmad bin Khidhrowaih
Al-Balkhiy (wafat 240 H) _rahimahullah_ berkata,
القُلُوْبُ جَوَّالَةٌ، فَإِمَّا أَنْ
تَجُولَ حَوْلَ العَرْشِ، وَإِمَّا أَنْ تَجُولَ حَوْلَ الحُشِّ
"Hati suka menerawang. Terkadang hati
menerawang di sekitar Arsy dan terkadang pula menerawang di sekitar tempat
kotoran". [Lihat Dzammul Hawa (hal. 74) oleh Ibnul Jauziy, dan Siyar
A'lam An-Nubala' (11/488)]
Perubahan secepat inilah yang
amat ditakuti dahulu oleh para salaf. Mereka selalu memohon kepada Allah _ta’ala_
agar diberikan taufiq untuk menapaki jalan-jalan kebenaran dan kebaikan.
Mereka takut bermaksiat, karena
mereka khawatir maksiatnya akan menyeretnya kepada kekafiran.
Para salaf _rahimahumullah_
dahulu berkata, “Maksiat adalah pos pengantar menuju kekafiran.”
Mereka banyak menengadahkan
tangan ke langit, dan senantiasa bersujud di malam gulita seraya mengucurkan air
mata harapan dan takut di hadapan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Keras
Siksaan-Nya.
Hari-harinya diisi dengan
berbagai amal sholih, karena berharap agar hidupnya yang singkat di dunia ini
ditutup dengan “husnul khotimah” (akhir yang baik).

Komentar
Posting Komentar