Keutamaan
Menakar dengan Sho’ dan Mudd dan lainnya
oleh : Ust. Abdul Qodir Abu Fa'izah, Lc.
_hafizhahullah_
@abu.faizah03
Menakar di
kala melakukan jual beli adalah perkara yang dianjurkan oleh Nabi –shollallohu
alaihi wa sallam-.
Demikian
pula beliau menganjurkan kita untuk melestarikan sho’ dan mudd dalam menakar
zakat fitri. Karena, sho’ dan mudd ini adalah takaran yang pernah didoakan
keberkahan oleh Rasulullah –shollallohu alaihi wa sallam- dalam sebuah hadits
yang shohih.
Dari
sahabat yang mulia, Abu Huroiroh Ad-Dausiy –radhiyallohu ‘anhu- berkata,
كَانَ النَّاسُ إِذَا رَأَوْا أَوَّلَ
الثَّمَرِ جَاءُوا بِهِ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،
فَإِذَا أَخَذَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ:
«اللهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي ثَمَرِنَا،
وَبَارِكْ لَنَا فِي مَدِينَتِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي صَاعِنَا، وَبَارِكْ لَنَا
فِي مُدِّنَا، اللهُمَّ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ عَبْدُكَ وَخَلِيلُكَ وَنَبِيُّكَ،
وَإِنِّي عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، وَإِنَّهُ دَعَاكَ لِمَكَّةَ، وَإِنِّي أَدْعُوكَ
لِلْمَدِينَةِ بِمِثْلِ مَا دَعَاكَ لِمَكَّةَ، وَمِثْلِهِ مَعَهُ»
“Dahulu manusia bila melihat awal buah kurma,
maka mereka membawanya kepada Nabi -shollallohu alaihi wa sallam-.
Bila Rasulullah –shollallohu alaihi wa
sallam- telah mengambilnya, maka beliau berdoa,
“Ya Allah, berkahilah bagi kami pada
buah-buahan kami, berkahilah bagi kami pada kota kami (Madinah), berkahilah
bagi kami pada sho’ kami, dan berkahilah bagi kami pada mudd kami.
Ya Allah, sesungguhnya Ibrahim adalah hamba
dan kekasih-Mu, serta nabi-Mu. Sedang aku adalah hamba dan nabi-Mu.
Sesungguhnya Ibrahim telah berdoa kepada-Mu
untuk Makkad, dan sungguh aku berdoa kepada-Mu untuk Kota Madinah seperti
Ibrahim berdoa kepada-Mu untuk Makkah, dan semisal bersamanya.” [HR. Muslim dalam Shohih-nya (1373)]
Dari Zaid
bin Tsabit -radhiyallohu ‘anhu-, beliau berkata,
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَظَرَ قِبَلَ اليَمَنِ فَقَالَ: «اللَّهُمَّ أَقْبِلْ
بِقُلُوبِهِمْ، وَبَارِكْ لَنَا فِي صَاعِنَا وَمُدِّنَا»
Nabi
–shollallohu alaihi wa sallam- pernah memandang ke arah negeri Yaman seraya
berdoa,
“Ya
Allah hadapkan hati-hati mereka dan berkahilah bagi kami pada sho’ kami, dan
mudd kami.” [HR.
At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (3934),
dan hadits ini hasan-shohih sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Albaniy dalam Irwa’
Al-Gholil (4/176)]
Hadits ini
merupakan dalil yang menunjukkan keutamaan menggunakan mudd dan sho’
dalam menakar sesuatu dalam berjual
beli, berinfaq, berzakat, membayar fidyah, dan lain sebagainya.
Sebab,
makanan yang ditakar dengan mudd nabawi atau sho nabawi diberkahi oleh Allah
dengan berkat doanya Nabi –shollallohu alaihi wa sallam- di dalam hadits
itu.
Al-Hafizh
Abu Umar Ibnu Abdil Barr An-Namariy Al-Andalusiy -rahimahulloh- berkata,
"وَفِيهِ
دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ الْإِنْفَاقَ بِالْكَيْلِ أَفْضَلُ مِنْهُ بِغَيْرِ الْكَيْلِ."
اهـ من الاستذكار (8/ 218)
“Di
dalam hadits ini terdapat dalil bahwa berinfaq dengan menggunakan takaran ini
adalah lebih afdhol (lebih utama) dibandingkan berinfaq dengan menggunakan
dengan selain takaran ini (yakni, mudd nabawi dan sho’ nabawi).”
[Lihat
Al-Istidzkar (jld. 8/ hlm. 218)]
Al-Imam
Abu Saulaiman Al-Khoththobiy -rahimahulloh- berkata,
"وقوله:
(بارك لنا في صاعنا ومدنا) يريد في طعامنا المكيل بالصاع والمد." اهـ من أعلام
الحديث (2/ 938) للخطابي
“Sabda
beliau, “Berkahilah bagi kami pada sho’ kami dan mudd kami,” beliau inginkan “pada
makanan kami yang ditakar dengan sho’ dan mudd.”
[Lihat : A’laam
Al-Hadits (jld. 2/ hlm. 938)]
Kemudian
perlu diketahui bahwa di zaman ada dua jenis takaran :
1)
Takaran yang
berlaku di zaman Nabi –shollallohu alaihi wa sallam-. Itulah mudd dan sho’.
2)
Takaran yang
berlaku di zaman Bani Umayyah.
Namun yang didoakan keberkahan oleh Rasululloh –shollallohu
alaihi- adalah yang pertama, yaitu mudd nabawi, dan sho’ nabawi.
Sho’ dan mudd nabawi ini adalah takaran sho’ dan mudd
yang berlaku penggunaannya di zaman Nabi –shollallohu alaihi wa sallam- dengan volume
yang telah dikenal pada masa itu.
Tidak ada masa yang berlalu sejak masa kenabian,
melainkan sho nabawi dan mudd nabawi senantiasa terwariskan secara
turun-temurun dengan periwayatan sanad.
Alhamdulillah, kami (Ust. Abdul Qodir Abu Fa’izah)
memiliki takaran mudd nabawi yang terwariskan melalui sanad periwayatan.
Berikut bentuk dan konversinya :
* 1
Mudd = 620 grm = 6,2
0ns = 0,8
liter (812,5 ml)
* 1
Sho’ = 2,48 kg = 3,1/4 liter (3,25 liter)
Hanya saja, setelah mengetahui konversi ini, maka sebaiknya kita mengukur dengan alat takar sho' dan mudd, jangan pakai yang lain agar kita dapat berkah doa Nabi -shollalohu alaihi wa sallam-, kecuali tidak punya alat itu. "Tak ada akar, rotan pun jadi".
Hanya saja, setelah mengetahui konversi ini, maka sebaiknya kita mengukur dengan alat takar sho' dan mudd, jangan pakai yang lain agar kita dapat berkah doa Nabi -shollalohu alaihi wa sallam-, kecuali tidak punya alat itu. "Tak ada akar, rotan pun jadi".

Komentar
Posting Komentar