Hadits Palsu tentang “Sholat Kaffaroh” pada Jumat Terakhir Romadhon





Hadits Palsu tentang “Sholat Kaffaroh”
pada Jumat Terakhir Romadhon

oleh :
Ust. Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc.
-hafizhahullah-
@abu.faizah03

Seorang kawan (Akh Syafruddin) dari Kabupaten Bantaeng, kemarin (Kamis, 22 Romadhon 1439 H), mengirim sebuah pertanyaan kepada kami tentang hadits yang berisi tentang anjuran dan tata cara “Sholat Kaffaroh” bagi mereka yang pernah meninggalkan sholat, atau malas mengerjakannya.

Pasalnya, telah tersebar meluas hadits tentang “Sholat Kaffaroh” ini di berbagai media sosial, sehingga banyak yang bingung tentang kedudukan sholat itu.

Kemudian kawan itu mengirimkan contoh berita yang tersebar meluas berisi selebaran untuk mengajak kaum muslimin dalam melaksanakan “Sholat Kaffaroh” tersebut.

Adapun isi selebaran itu, maka berikut kami nukilkan :


SHALAT KAFARAH DI HARI JUM'AT TERAKHIR BULAN RAMADHAN

Shalat kafarah Bersabda Rasulullah SAW : " Barangsiapa selama hidupnya pernah meninggalkan sholat tetapi tak dapat menghitung jumlahnya, maka sholatlah di hari Jum'at terakhir bulan Ramadhan sebanyak 4 rakaat dengan 1x tasyahud (tasyahud akhir saja, tanpa tasyahud awal), tiap rakaat membaca 1 kali Fatihah kemudian surat Al-Qadar 15 X dan surat Al-Kautsar 15 X .
.
Niatnya: ” Nawaitu Usholli arba’a raka’atin kafaratan limaa faatanii minash-shalati lillaahi ta’alaa”
.
Sayidina Abu Bakar ra. berkata :
"Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Sholat tersebut sebagai kafaroh (pengganti) sholat 400 tahun dan menurut Sayidina Ali ra. sholat tersebut sebagai kafaroh 1000 tahun. Maka bertanyalah sahabat : umur manusia itu hanya 60 tahun atau 100 tahun, lalu untuk siapa kelebihannya ?". Rasulullah SAW menjawab, "Untuk kedua orangtuanya, untuk istrinya, untuk anaknya dan untuk sanak familinya serta orang-orang yang didekatnya/ lingkungannya."
.
Setelah selesai Sholat membaca Istigfar 10 x :

أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعِظِيْمِ الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَ أتُبُوْا إِلَيْكَ
Kemudian baca sholawat 100 x :

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا محمّدٍ
Kemudian menbaca basmalah, hamdalah dan syahadat
Kemudian membaca Doa kafaroh 3x :
اَللَّهُمَّ يَا مَنْ لاَ تَنْفَعُكَ طَاعَتِيْ وَلاَ تَضُرُّكَ مَعْصِيَتِيْ تَقَبَّلْ مِنِّيْ مَا لاَ تَنْفَعُكَ وَاغْفِرْ لِيْ مَا وَلاَ تَضُرُّكَ يَا مَنْ إِذَا وَعَدَ وَفَا وَ إِذَا تَوَعِدُ تَجَاوَزَ وَعَفَا اِغْفِرْ لِيْ لِعَبْدٍ ظَلَمَ نَفْسَهُ وَأَسْأَلُكَ اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ بَطْرِ اْلغِنَى وَجَهْدِ اْلفَقْرِ إِلَهِيْخَلَقْتَنِيْ وَلَمْ أَكُنْ شَيْئًاً وَرَزَقْتَنِيْ وَلَمْ اَكُنْ شَيْئاً وَارْتَكَبْتُ اْلمَعَاصِيْ فَإِنِّيْ مُقِرٌّ لَكَ بِذُنُوبِيْ فَإِنْ عَفَوْتَ عَنِّيْ فَلاَ يَنْقُصُ مِنْ مُلْكِكَ شَيْئاً وَإِنْ عَذَبْتَنِيْ فَلاَ يَزِدُ فِيْ سُلْطَاِنكَ شيئاً اَللَّهُمَّ إِنَّكَ تَجِدُ مَنْ تُعَذِّبُهُ غَيْرِي لَكِنِّيْ لاَ أَجِدُ مَنْ يَرْحَمْنِيْسِوَاكَ فَاغْفِرْ لِيْ مَا بَيْنِيْ وَبَيْنَكَ وَمَا بَيْنَ خَلْقِكَ اِرْحَمْنِيْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَيَا رَجَاءَ السّائِلِيْنَ وَيَا أَمَانَ اْلخَائِفِيْنَ إِرْحَمْنِيْ بِرَحْمَتِكَ الْوَاسِعَةَ أَنْتَ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَاَلمِيْنَ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ ِللْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ وَتَابِعِ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ بِالْخَيْرَاتِ ربّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَ أَنْتَ خَيْرُالرَّاحِمِيْنَ وصل الله على سيّدنا محمّد وعلى ألِهِ وصحبه وسلّم تسليمًا كثيرًا والحمد لله ربّ العالمين. أمين.
Diambil dari kitab “Majmu’atul Mubarakah”, susunan Syekh Muhammad Shodiq Al-Qahhawi.[1]

(oleh: Habib Munzir al-Musawa dan dari berbagai sumber lain.)
Waktu : Yaitu, shalat sunnah kafarat yang hanya kesempatannya di hari Jumat akhir Ramadhan batasnya antara waktu dhuha dan Ashar.
.
Semoga bisa mengamalkan dan ada manfaatnya.
.
Allahuma sholi 'ala sayidina Muhammad nabiyil umiyi wa 'alihi wa shohbihi wa salim
.
Silahkan Tag & share ~
=====================
Please like and follow :
=> Video Dakwah Islami
=> Dakwah Para Habaib dan Ulama Was Sholihin

Para pembaca yang budiman, untuk mengetahui kedudukan hadits ini, maka penting kiranya kami nukilkan kepada anda penilaian para ulama dunia terhadap hadits yang menjadi sandaran bagi “Sholat Kaffaroh” itu, agar anda bersikap di atas ilmu, bukan di atas perasaan dan hawa nafsu.

Hadits tentang “Sholat Kaffaroh” ini ternyata telah lama sampai ke telinga para ulama kita, sehingga fatwa-fatwa mereka juga telah lama dibukukan. Alhamdulillah.

Seorang penanya pernah melayangkan pertanyaan tentang “Sholat Kaffaroh” ke meja kerja para ulama Mesir yang tergabung dalam lembaga fatwa (semacam MUI di Indonesia), yang bernama “Darul Ifta’ Al-Misriyyah”.

Fatwa Ulama “Darul Ifta’ Al-Mishriyyah”


Sang penanya berkata,
السؤال
 قام بعض الناس بتوزيع ورقة مكتوب فيها: صلاة الكفارة، مع حديث طويل فى كيفيتها منسوب للنبى صلى الله عليه وسلم، جاء فيه أن من فاتته صلاة فى عمره ولم يحصها يصلى فى آخر جمعة من رمضان أربع ركعات بتشهد واحد يقرأ فى كل ركعة فاتحة الكتاب وسورة القدر خمس عشرة مرة وسورة الكوثر كذلك، وهى كفارة أربعمائة سنة فى رواية أبا بكر وألف سنة فى رواية على، ولما كان ابن آدم يعيش ستين أو مائة سنة فالصلاة الزائدة تكون لأبويه وزوجته وأولاده وأقاربه وأهل البلد، وبعد الصلاة يصلى على النبى صلى الله عليه وسلم مائة مرة، ويدعو بهذا الدعاء، وهو دعاء بطلب المغفرة.. فهل هذا الحديث بما جاء فيه صحيح، وما الذى يكفر الصلاة؟
“Sebagian orang membagikan selebaran yang didalamnya tertulis tentang “Sholat Kaffaroh, bersama sebuah hadits yang panjang tentang tata caranya yang dinisbahkan (disandarkan) kepada Nabi –shollallohu alaihi wa sallam-.

Datang keterangan dalam selebaran itu :
“Barangsiapa yang luput mengerjakan suatu sholat dalam seumur hidupnya, namun ia tidak lagi (mampu) menghitungnya, maka hendaknya ia sholat pada akhir Jumat dari Bulan Romadhon sebanyak empat rakaat dengan satu tasyahhud. I abaca di dalam setiap rakaatnya Surah Al-Fatihah dan Suroh Al-Qodr sebanyak 15 kali, dan juga Suroh Al-Kautsar sebanyak itu. Itu adalah kaffaroh (penebus) 400 tahun.”
Di dalam riwayat Abu Bakr, “(penebus) 1000 tahun.”
Dalam riwayat Ali,
“Tatkala anak cucu Adam hidup 60 tahun atau 100 tahun, maka sholatnya yang lebih adalah untuk kedua orang tuanya, istrinya, anak-anaknya, para kerabatnya, dan penduduk negerinya.”
Setelah sholat, maka hendaknya ia ber-sholawat untuk Nabi –shollallohu alaihi wa salllam- sebanyak 100 kali, dan ia mengucapkan doa ini, yaitu doa meminta ampunan.”
Apakah hadits ini beserta apa yang datang padanya adalah shohih (benar), dan apakah yang dapat menebus sholat?

Kemudian ulama Darul Ifta’ Al-Mishriyyah memberikan jawaban berikut :
الجواب
 لم أعثر على هذا الحديث فى الكتب الصحيحة، وعلامة الوضع فيه ظاهرة، فالصلاة التى تفوت الإنسان لا يكفرها إلا قضاؤها، وقد مر فى ص 612 من المجلد الثانى من هذه الفتاوى أن من ترك الصلاة ناسيا لا يكفرِّها إلا قضاؤها كما صح فى الحديث، وإذا كان هذا فى الصلاة التى نام عنها أو سها عنها الإنسان فكيف بالصلاة المتروكة عمدا؟ إن قضاءها أولى بالوجوب.
إن الكلام المذكور يغرى الناس بترك الصلاة حيث يكفيهم عنها صلاة واحدة فى آخر جمعة من رمضان، ولم يقل بهذا أحد من العلماء، بل إنهم على الرغم من قبولهم الأحاديث التى تقول إن الصلاة الواحدة فى مسجد مكة بمائة ألف صلاة فيما سواه، وفى مسجد المدينة بألف وفى المسجد الأقصى بخمسمائة، يقولون بأنها لا تغنى عن الصلوات المفروضة ولا تقوم مقام الصلوات الفائتة، وإنما المراد كثرة ثواب الصلاة فى هذه الأماكن المقدسة.
وأحذّر من يقومون بترويج هذه المنشورات من تبعة العمل بما يروجونه، فهو أولا كذب على الله وعلى رسوله، والله تعالى يقول {إن الذين يفترون على الله الكذب لا يفلحون} النحل: 116 والرسول صلى الله عليه وسلم يقول " من كذب علىَّ متعمدا فليتبوأ مقعده من النار" رواه البخارى ومسلم.
وهو ثانيا سيتحمل وزر من يتهاونون فى الصلاة اكتفاء بصلاة الكفارة المزعومة {وليحملن أثقالهم وأثقالا مع أثقالهم وليسألن يوم القيامة عما كانوا يفترون} العنكبوت: 13 "ومن سَنَّ سنة سيئة فعليه وزرها ووزر من عمل بها إلى يوم القيامة" رواه مسلم. والذين وضعوا هذا الكذب والمشاركون فى طبعه وتوزيعه داخلون فى هذه المسئولية." اهـ من فتاوى دار الإفتاء المصرية (9/ 144، بترقيم الشاملة آليا)
Jawab :
“Aku belum pernah menemukan hadits ini di dalam kitab-kitab tentang hadits-hadits shohih, sedang ciri-ciri keplasuan padanya sangat jelas.
Sholat yang luput dikerjakan oleh seseorang, tidak ada yang dapat menebusnya, melainkan ia di-qodho’; sungguh telah berlalu pada (hlm. 612, jld. 2) dari Kumpulan Fatwa ini bahwa barangsiapa yang meninggalkan sholat karena lupa, maka sholat itu tidak bisa di-kaffaroh (ditebus), melainkan ia di-qodho’ sebagaimana yang shohih (benar) menurut sebuah hadits.
Jika hal ini pada sholat yang seseorang tertidur atau lupa darinya, nah bagaimana lagi halnya dengan sholat yang sengaja ditinggalkan?
Sungguh meng-qodho’-nya (menggantinya) lebih utama untuk diwajibkan.
Sesungguhnya ucapan tersebut (yakni, selebaran tentang Sholat Kaffaroh) akan memancing manusia untuk meninggalkan sholat, sebab telah mencukupi mereka satu kali sholat di akhir Jumat dari Bulan Romadhon.
Tidak ada yang menyatakan seperti ini seorang pun diantara para ulama. Bahkan sekalipun mereka (para ulama itu) menerima hadits-hadits yang menyatakan bahwa satu kali sholat di Masjid Makkah, (dibalas) dengan (pahala) 100 ribu kali sholat pada selainnya, di Masjid Madinah (Masjid Nabawi), dengan (pahala) 1000 kali sholat pada selainnya, dan di Masjid Al-Aqsho, dengan (pahala) 500 (kali sholat dibandingkan pada selainnya).
Para ulama ini menyatakan bahwa sholat (yang dilakukan pada 3 masjid yang utama ini) tidaklah mencukupi sholat-sholat fardhu dan tidak pula menggantikan kedudukan sholat-sholat fardhu yang terluput (untuk dikerjakan).
Namun yang dimaksudkan darinya adalah banyaknya pahala pada tempat-tempat suci ini.
Aku peringatkan kepada mereka yang menyebarkan selebaran-selebaran ini tentang bahaya pertanggungjawaban sesuatu yang mereka sebarkan.
Hal itu –pertama- adalah kedustaan atas nama Allah dan Rasul-Nya.
Allah –ta’ala- berfirman,
{إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ} [النحل: 116]
Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung”. (QS. An Nahl [16] : 116).
Rasul –shollallohu alaihi wa sallam- bersabda,
َنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ" رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ.
“Barangsiapa yang sengaja berdusta atas namaku, maka hendaknya ia mempersiapkan tempat duduknya di dalam neraka.” [HR. Al-Bukhoriy dan Muslim]
Kedua, dia (yakni, orang menyebarkan selebaran itu) akan menanggung dosanya orang-orang yang meremehkan sholat, karena mereka (yang meninggalkan sholat) mencukupkan diri dengan “Sholat Kaffaroh” yang diada-adakan tersebut.
(Allah –ta’ala- berfirman),
{وَلَيَحْمِلُنَّ أَثْقَالَهُمْ وَأَثْقَالًا مَعَ أَثْقَالِهِمْ وَلَيُسْأَلُنَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَمَّا كَانُوا يَفْتَرُونَ } [العنكبوت: 13]
“Dan sesungguhnya mereka akan memikul beban (dosa) mereka, dan beban-beban (dosa yang lain) di samping beban-beban mereka sendiri, dan sesungguhnya mereka akan ditanya pada hari kiamat tentang apa yang selalu mereka ada-adakan.” (Al-'Ankabut 29:13)
(Rasulullah –shollallohu alaihi wa sallam- bersabda),
َمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً، فَعَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ"، رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
“Siapa saja yang mencontohkan sebuah contoh yang buruk, maka ia akan menanggung dosanya dan dosa orang-orang mengamalkannya sampai hari kiamat.” [HR. Muslim]
Orang yang membuat-buat kedustaan ini (yakni, selebaran itu), dan juga orang-orang yang ikut serta dalam mencetaknya dan menyebarkannya, akan masuk dalam pertanggungjawaban ini.”
[Lihat : Fatawa Darul Ifta’ Al-Mishriyyah (9/144) via Syamilah]

Inilah fatwa yang dikeluarkan oleh Darul Ifta’ Al-Mishriyyah (Lembaga Fatwa Mesir). Kala itu, jawaban (fatwa) secara resmi ditulis oleh Mufti Mesir Syaikh ‘Athiyyah Shoqr -rahimahullah-.

Fatwa Al-Imam Muhammad bin Ali Asy-Syaukaniy Al-Yamaniy

Jauh sebelumnya, ternyata selebaran “Sholat Kaffaroh” ini telah tersebar secara meluas di zaman ulama Yaman yang bernama Asy-Syaukaniy -rahimahullah-.
Al-Imam Muhammad bin Asy-Syaukaniy Al-Yamaniy -rahimahullah- berkata tentang hadits dalam selebaran itu,
((حديث: "مَنْ صَلَّى فِي آخِرِ جُمُعَةٍ مِنْ رَمَضَانَ الْخَمْسَ الصَّلَوَاتِ الْمَفْرُوضَةَ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ قَضَتْ عَنْهُ مَا أَخَلَّ بِهِ مِنْ صَلاةِ سُنَّتِهِ.
هَذَا: مَوْضُوعٌ لا إِشْكَالَ فِيهِ وَلَمْ أَجِدْهُ فِي شَيْءٍ مِنَ الْكُتُبِ الَّتِي جَمَعَ مُصَنِّفُوهَا فِيهَا الأَحَادِيثَ الْمَوْضُوعَةَ وَلَكِنَّهُ اشْتَهَرَ عِنْدَ جَمَاعَةٍ مِنَ الْمُتَفَقِّهَةِ بِمَدِينَةِ صَنْعَاءَ فِي عَصْرِنَا هَذَا وَصَارَ كَثِيرٌ مِنْهُمْ يَفْعَلُونَ ذَلِكَ وَلا أَدْرِي مَنْ وَضَعَهُ لَهُمْ.
فَقَبَّحَ اللَّهُ الْكَذَّابِينَ)) اهـ من الفوائد المجموعة (ص: 54)
“Hadits : “Barangsiapa yang sholat fardhu lima waktu dalam sehari semalam, pada hari Jumat terakhir dari Bulan Romadhon, maka sholat itu akan menggantikan baginya sesuatu yang ia lalaikan berupa sholat setahun penuh.”
Ini adalah hadits palsu, tidak masalah tentang (kepalsuan)nya. Aku tidak menemukannya sedikitpun di dalam kitab-kitab yang para penyusunnya mengumpulkan padanya hadits-hadits palsu. Tetapi hadits ini masyhur di sisi sekelompok pelajar fikih di Kota Shon’a di masa kita ini.
Akhirnya, banyak diantara mereka yang melakukan hal itu. Aku tidak mengerti siapa yang memalsukan hadits itu untuk mereka. Semoga Allah memperburuk para pendusta (yang telah membuat hadits palsu itu, pent.).”
[Lihat : Al-Fawa’id Al-Majmu’ah (hlm. 54), karya Asy-Syaukaniy]

Fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Al-Buhuts Al-Ilmiyyah wa Al-Ifta’ (01)


Hukum “Sholat Kaffaroh” ini juga pernah ditanyakan keabsahan haditsnya kepada para ulama senior Timur Tengah yang tergabung dalam “Al-Lajnah Ad-Da’imah li Al-Buhuts Al-‘Ilmiyyah wa Al-Ifta’”.

Si Penanya pun berkata,
"إن بعض أئمة المساجد يصلون في رمضان بعد__صلاة جمعة الوداع خمس صلوات لأوقاتها، بجماعة بأذان وإقامة، بالالتزام كالفرض والواجب، ويسمونها: صلاة القضاء العمري، والعوام يصلونها حسب اسمها؛ عقيدة أنها قضاء لسائر صلواته الفائتة في عمره، والخواص -أي الأئمة- يؤدونها بأنها جبيرة لنقائص صلواته،
وهؤلاء المحدثون يطعنون بالذين لا يصلون هذه الصلاة. فالمسئول من جنابكم: هل يجوز أداء هذه الصلاة أي القضاء العمري من الالتزام في رمضان بعد صلاة جمعة الوداع، وهل لها مبنى في شريعة الإسلام؟"
“Sesungguhnya sebagian imam masjid melaksanakan sholat lima waktu di Bulan Romadhon setelah Jumat terakhir (dari Bulan Romadhon, -pent.) sesuai waktunya masing-masing, secara berjamaah dengan adzan dan iqomat, dengan melaziminya sebagai fardhu dan kewajiban.
Sholat ini dinamai oleh oleh mereka dengan “Sholat Qodho’ Seumur Hidup” . Kaum awam melaksanakan sholat itu sesuai namanya, sebagai sebuah keyakinan bahwa sholat itu adalah ganti (tebusan) bagi semua sholat yang luput (mereka kerjakan) seumur hidupnya.
Sementara orang-orang tertentu –yaitu para imam masjid- menunaikan sholat itu sebagai penutup bagi kekurangan-kekurangan sholatnya.
Orang-orang yang menciptakan sholat itu mencaci maki orang-orang yang tidak mau melaksanakan sholat ini.
Nah, yang ditanyakan di sisi anda, “Apakah boleh menunaikan sholat ini, yakni “Sholat Qodho’ Seumur Hidup” dengan melaziminya di Bulan Romadhon, setelah sholat Jumat terakhir (dari Bulan Romadhon)?
Apakah sholat ini memliki dasar dalam Syariat Islam?”

Para ulama yang tergabung Al-Lajnah Ad-Da’imah (yang kala itu diketuai oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz, dan beranggotakan : Syaikh Abdullah bin Qu’ud, Abdullah bin Ghudayyan, Abdur Razzaq Afifi) memberikan fatwa resmi tentang hadits palsu “Sholat Kaffaroh” atau “Sholat Qodho’ Seumur Hidup”,
الصلاة عبادة، والأصل فيها التوقيف، وطلب قضائها وبيانه تشريع، وذلك لا يصح أن يرجع فيه إلا إلى كتاب الله وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم، والإجماع المستند إليهما، أو إلى أحدهما، ولم يثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم ولا عن أصحابه رضي الله عنهم، ولا عن أئمة الهدى رحمهم الله: أنهم صلوا هذه الصلاة أو أمروا بها وحثوا عليها، أو رغبوا فيها، ولو كانت ثابتة لعرفها أصحابه رضي الله عنهم، ونقلوها إلينا، وأرشد إليها أئمة الهدى من بعدهم، لكن لم يثبت ذلك عن أحد منهم: قولا أو فعلا؛ فدل ذلك على أن ما ذكر في السؤال من صلاة القضاء العمري بدعة في الشرع لم يأذن به الله، وقد ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال:__
«من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد (1) » وإنما الذي أمر به رسول الله صلى الله عليه وسلم أن يقضى من الصلوات ما فات الإنسان؛ لنوم أو نسيان حتى خرج وقته، وبين لنا أن نصليها نفسها إذا استيقظنا أو تذكرناها، لا في آخر جمعة من رمضان.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء
عضو ... عضو ... نائب رئيس اللجنة ... الرئيس
عبد الله بن قعود ... عبد الله بن غديان ... عبد الرزاق عفيفي ... عبد العزيز بن عبد الله بن باز." اهـ من فتاوى اللجنة الدائمة - 1 (8/166_168)
“Sholat adalah ibadah. Hukum asalnya harus dibangun di atas dalil. Sedang menuntut pelaksanaan suatu ibadah dan penjelasannya merupakan tasyri’ (penetapan syariat).
Hal itu tidak benar untuk dirujuk, melainkan kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya –shollallohu alaihi wa sallam-, serta ijma’ yang bersandar kepada keduanya, atau kepada salah satunya.
Tidaklah benar dari Nabi –shollallohu alaihi wa sallam-, dari para sahabat beliau –radhiyallahu anhu-, dan tidak pula para ulama pembawa petunjuk –rahimahumullah- bahwa mereka melaksanakan sholat ini, atau memerintahkannya, menganjurkannya, atau mendorong manusia kepadanya.
Andaikata sholat ini benar (punya dasar), maka pasti para sahabat –radhiyallahu anhum- mengenalnya, menukilnya kepada kita, dan para ulama pembawa petunjuk setelah mereka akan memberikan bimbingan kepada sholat ini.
Akan tetapi hal itu tidaklah benar (datang) dari seorang pun diantara mereka, baik itu berupa ucapan, maupun perbuatan.
Hal itu menunjukkan bahwa sesuatu yang disebutkan dalam pertanyaan itu berupa “Sholat Qodho’ Seumur Hidup” adalah bid’ah (ajaran yang tidak ada dasarnya) dalam syariat, yang tidak pernah diizinkan oleh Allah.
Sungguh telah benar dari Nabi –shollallohu alaihi wa sallam- bahwa beliau bersabda,
«مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ »
“Barangsiapa yang mengada-adakan dalam urusan agama kami ini sesuatu yang bukan darinya, maka hal itu tertolak.” [2]
Hanyalah yang diperintahkan oleh Rasulullah –shollallohu alaihi wa sallam- adalah seseorang  meng-qodho’ (mengganti) sholat-sholatnya yang ia luput dari mengerjakannya, karena sebab ketiduran, atau lupa sampai keluar waktunya; dan beliau juga menjelaskan kepada kita bahwa tunaikan sholat itu sendiri bila kita bangun atau mengingatnya, (tapi) itu bukan di Jumat terakhir dari Bulan Romadhon.
Wabillahit tawfiq wa shollalohu ala Nabiyyina wa alihi wa shohbihi wa sallam.”
[Lihat : kitab Fatawa Al-Al-Lajnah Ad-Da’imah (jld. 8/ hlm. 166-168)]

Fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Al-Buhuts Al-Ilmiyyah wa Al-Ifta’ (02)

Pada kesempatan yang lain, “Sholat Kaffaroh” ini pernah ditanyakan keabsahannya di sisi para ulama terkemuka dalam Al-Lajnah Ad-Da’imah, yang kala itu masih dipimpin oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz -rahimahullah- dengan beranggotakan Syaikh Abdul Aziz Alusy Syaikh, Abdullah bin Ghudayyan, Sholih Al-Fawzan, dan Bakr Abu Zaid -rahimahumullah-.
س: عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال: " من فاته صلاة في عمره ولم يحصها فليقم في آخر جمعة من رمضان، وليصل أربع ركعات بتشهد واحد، يقرأ في كل ركعة فاتحة الكتاب وسورة القدر خمس عشرة مرة، وسورة الكوثر كذلك، ويقول في النية: نويت أصلي أربع ركعات كفارة لما فاتني من الصلاة " قال أبو بكر: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: " هي كفارة أربعمائة سنة " حتى قال علي كرم الله وجهه: هي كفارة ألف سنة، فلمن تكون الصلاة الزائدة؟ قال: تكون لأبويه وزوجته ولأولاده فأقاربه وأهل البلد، فإذا فرغ من الصلاة صلى على النبي صلى الله عليه وسلم مائة مرة بأي صفة كانت، ثم يدعو بهذا الدعاء ثلاث مرات: (اللهم يا من لا تنفعك طاعتي، ولا تضرك معصيتي، تقبل مني ما لا ينفعك، واغفر لي ما لا يضرك، يا من إذا وعد وفى، وإذا توعد تجاوز وعفا، اغفر__لعبد ظلم نفسه، وأسألك اللهم إني أعوذ بك من بطر الغنى وجهد الفقر، إلهي خلقتني ولم أك شيئا، ورزقتني ولم أك شيئا، وارتكبت المعاصي فإني مقر لك بذنوبي، إن عفوت عني فلا ينقص من ملكك شيء، وإن عذبتني فلا يزيد في سلطانك شيء، إلهي أنت تجد من تعذبه غيري، وأنا لا أجد من يرحمني غيرك، اغفر لي ما بيني وبينك، واغفر لي ما بيني وبين الناس يا أرحم الراحمين، ويا رجاء السائلين، ويا أمان الخائفين، ارحمني برحمتك الواسعة، أنت أرحم الراحمين يا رب العالمين، اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات، والمسلمين والمسلمات الواسعة، أنت أرحم الراحمين يا رب العالمين، اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات، والمسلمين والمسلمات، وتابع بيننا وبينهم بالخيرات، رب اغفر وارحم وأنت خير الراحمين. . وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين) .
Si penanya berkata dalam pertanyaannya,
“Dari Rasulullah –shollallohu alaihi wa sallam- bahwa beliau bersabda,
“Barangsiapa yang luput dari suatu sholat dalam seumur hidupnya, namun ia sudah tidak lagi mampu menghitunya, maka hendaknya ia bangkit (melaksanakan sholat) di Jumat terakhir dari Bulan Romadhon, dan hendaknya ia sholat 4 rakaat, dengan satu tasyahhud. I abaca pada setiap rakaat Surah Al-Fatihah, Surah Al-Qodr 15 kali, dan Suroh AL-Kautsar demikian pula, dan ia berkata dalam niatnya,
"نويت أصلي أربع ركعات كفارة لما فاتني من الصلاة "
“Aku berniat sholat 4 rakaat sebagai kaffaroh (penebus) bagi apa yang luput darinya berupa sholat.”
Abu Bakar berkata,
“Aku pernah mendengarkan Rasulullah –shollallohu alaihi wa sallam- bersabda,
" هي كفارة أربعمائة سنة "
“Itu adalah kaffaroh 400 tahun.”
Sampai dikatakan oleh Ali –semoga Allah memuliakan wajahnya-,
"هي كفارة ألف سنة"
“Itu adalah kaffaroh 1000 tahun.”
(Maka bertanyalah sahabat) : umur manusia itu hanya 60 tahun atau 100 tahun, lalu untuk siapa kelebihannya ?". Rasulullah SAW menjawab, "Untuk kedua orangtuanya, untuk istrinya, untuk anaknya dan untuk sanak familinya serta penduduk negerinya."
Setelah selesai Sholat membaca Istigfar 10 x :

أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعِظِيْمِ الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَ أتُبُوْا إِلَيْكَ
Kemudian baca sholawat 100 x :

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا محمّدٍ
Kemudian menbaca basmalah, hamdalah dan syahadat
Kemudian membaca Doa kafaroh 3x :

اَللَّهُمَّ يَا مَنْ لاَ تَنْفَعُكَ طَاعَتِيْ وَلاَ تَضُرُّكَ مَعْصِيَتِيْ، تَقَبَّلْ مِنِّيْ مَا لاَ يَنْفَعُكَ وَاغْفِرْ لِيْ مَا لاَ يَضُرُّكَ، يَا مَنْ إِذَا وَعَدَ وَفَى، وَإِذَا تَوَعَّدَ تَجَاوَزَ وَعَفَا، اِغْفِرْ لِعَبْدٍ ظَلَمَ نَفْسَهُ

وَأَسْأَلُكَ اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ بَطْرِ اْلغِنَى وَجَهْدِ اْلفَقْرِ، إِلَهِيْ خَلَقْتَنِيْ وَلَمْ أَكُ شَيْئًاً، وَرَزَقْتَنِيْ وَلَمْ اَكُ شَيْئاً وَارْتَكَبْتُ اْلمَعَاصِيْ، فَإِنِّيْ مُقِرٌّ لَكَ بِذُنُوبِيْ، إِنْ عَفَوْتَ عَنِّيْ فَلاَ يَنْقُصُ مِنْ مُلْكِكَ شَيْئٌ وَإِنْ عَذَّبْتَنِيْ فَلاَ يَزِدُ فِيْ سُلْطَاِنكَ شَيْئٌ
إِلَهِيْ، أَنْتَ تَجِدُ مَنْ تُعَذِّبْهُ غَيْرِيْ، وَأَنَا لاَ أَجِدُ مَنْ يَرْحَمُنِيْ غَيْرَكَ، اِغْفِرْ لِيْ مَا بِيْنِيْ وَبَيْنَكَ، وَاغْفِرْ لِيْ مَا بَيْنِيْ وَبَيْنَ النَّاسِ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، وَيَا رَجَاءَ السّائِلِيْنَ وَيَا أَمَانَ اْلخَائِفِيْنَ إِرْحَمْنِيْ بِرَحْمَتِكَ الْوَاسِعَةَ أَنْتَ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَاَلمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ ِللْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ الوَاسِعَةَ، أَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ،
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ ِللْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ وَتَابِعِ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ بِالْخَيْرَاتِ، ربِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُالرَّاحِمِيْنَ،
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ، وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ) .
Para ulama “Al-Lajnah Ad-Da’imah” memberikan jawaban dalam fatwa berikut :
ج: هذا الحديث حديث مكذوب مختلق، وليس في شيء من كتب الحديث المعتبرة، ومن فاتته صلاة فإن الواجب عليه المبادرة إلى قضائها عند ذكرها؛ لما ثبت أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «من نام عن صلاة أو نسيها فليصلها إذا ذكرها، لا كفارة لها إلا ذلك » .
وأما الصلاة المذكورة التي يكرر فيها سورة القدر والكوثر خمس عشرة مرة - فهي صلاة مبتدعة تخالف الصلاة المشروعة.___
هذا وقد اشتمل الدعاء الذي يقرأ بعد تلك الصلاة على بعض العبارات غير اللائقة مثل: إلهي أنت تجد من تعذبه غيري، ومثل: يا أمان الخائفين. وبناء على ذلك لا تجوز تلك الصلاة المذكورة؛ لأنها صلاة مبتدعة.
وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء
عضو ... عضو ... عضو ... عضو ... الرئيس
بكر أبو زيد ... صالح الفوزان ... عبد الله بن غديان ... عبد العزيز آل الشيخ ... عبد العزيز بن عبد الله بن باز
[انظر : فتاوى اللجنة الدائمة - 2 (3/ 209_211)]
 “Hadits ini adalah hadits yang dipalsukan dan dibikin-bikin. Hadits ini tidak sedikitpun di dalam kitab-kitab hadits yang mu’tabar (standar).
Siapa saja yang luput dari mengerjakan suatu sholat, maka kewajibannya adalah bersegera untuk meng-qodho’-nya (menggantinya) saat ia mengingatnya, berdasarkan hadits yang tsabit bahwa Nabi –shollallohu alaihi wa sallam- bersabda,
«مَنْ نَامَ عَنْ صَلاَةٍ أَوْ نَسِيَهَا، فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا، لاَ كَفَّارَةَ لَهَا إِلَّا ذَلِكَ» .
“Barangsiapa yang ketiduran dari sholatnya, atau ia lupa sholatnya, maka hendaknya ia menunaikannya ketika ia mengingatnya. Tidak ada kaffaroh bagi sholat itu, melainkan hal itu.”[3]
Adapun “Sholat Kaffaroh” tersebut yang diulang-ulang padanya Suroh Al-Qodr, dan Al-Kautsar sebanyak 15 kali, maka itu adalah sholat yang diada-adakan lagi menyelisihi sholat yang disyariatkan.
Demikian inilah. Doa yang dibaca setelah sholat itu mengandung sebagian ungkapan yang tidak layak, misalnya :
* “Wahai Tuhan-ku, Engkau mendapati orang yang Engkau siksa selain diriku.”
* “Wahai Pengaman orang-orang yang takut.”
Berdasarkan hal itu semua, maka “Sholat Kaffaroh” tersebut tidak boleh (dikerjakan). Karena, ia adalah sholat yang diada-adakan.
Wa billahit tawfiq wa shollallohu ala Nabiyyina Muhammadin wa alihi wa shohbihi wa sallam.”
[Lihat : Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah 2 (3/209_211)]

Fatwa Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin

Seorang ulama terkenal di dunia, Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin rahimahullah- pernah ditanya tentang kedudukan “Sholat Kaffaroh” ini dengan pertanyaan berikut :
هناك جماعة من الناس عندهم عادة في رمضان وهي صلاتهم الفروض الخمسة بعد صلاة آخر جمعة ويقولون إنها قضاء عن أي فرض من هذه الفروض لم يصله الإنسان أو نسيه في رمضان فما حكم هذه الصلاة؟ أفتونا مأجورين.
“Disana terdapat sekelompok manusia. Di sisi mereka ada kebiasaan di Bulan Romadhon, yaitu mereka melaksanakan sholat lima waktu setelah sholat Jumat paling terakhir (dari Bulan Romadhon).
Mereka bilang, “Sholat tersebut adalah qodho’ (ganti) bagi sholat fardhu apa saja yang belum sempat dikerjakan oleh seorang manusia, atau ia lupa, di Bulan Romadhon. Apa hukumnya sholat ini?  Berilah fatwa bagi kami dengan mengharap pahala.

Kemudian Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaiminrahimahullah- menjawab pertanyaan di atas, seraya berkata,
"الحكم في هذه الصلاة أنها من البدع، وليس لها أصل في الشريعة الإسلامية، وهي لا تزيد الإنسان من ربه إلا بعداً، لأن رسول الله صلي الله عليه وسلم يقول: " كل بدعة ضلالة، وكل ضلالة في النار " .
فالبدع وإن استحسنها مبتدعوها ورأوها حسنة في نفوسهم فإنها سيئة عند الله عز وجل لأن نبيه صلي الله عليه وسلم يقول: " كل بدعة ضلالة، وكل ضلالة في النار ".
وهذه الصلوات الخمس التي يقضيها الإنسان في آخر جمعة من رمضان لا أصل لها في الشرع،
ثم إننا نقول :
هل لم يخل هذا الإنسان إلا في خمس صلوات فقط ربما أنه أخل في عدة أيام لا في عدة صلوات،
والمهم أن الإنسان ما علم أنه مخل فيه فعليه قضاءه متي علم ذلك لقوله صلي الله عليه وسلم " من نام عن صلاة أو نسيها فليصلها إذا ذكرها " .
وأما أن الإنسان يفعل هذه الصلوات الخمس احتياطاً - كما يزعمون - فإن هذا منكر ولا يجوز." اهـ من مجموع فتاوى ورسائل فضيلة الشيخ محمد بن صالح العثيمين (12/ 227_228)
 “Hukumnya sholat ini bahwa ia termasuk bid’ah, tidak memiliki dasar dalam syariat Islam. Sholat seperti ini tidaklah memberikan tambahan (berupa pahala bagi pelakunya), melainkan ia semakin jauh dari Tuhan-nya.
Karena, Rasulullah –shollallohu alaihi wa sallam- bersabda,
" كُلُّ بِدَعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ"
“Semua bid’ah adalah kesesatan, dan semua kesesatan di dalam neraka.”[4]
Jadi, bid’ah itu sekalipun dianggap baik oleh para penciptanya dan mereka pandang indah dalam jiwa mereka, maka bid’ah itu adalah buruk di sisi Allah –azza wa jalla-.
Karena, Nabi-Nya –shollallohu alaihi wa sallam- bersabda,
" كُلُّ بِدَعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ"
 “Semua bid’ah adalah kesesatan, dan semua kesesatan di dalam neraka.”[5]
Lima sholat ini (sebagai kaffaroh) yang dikerjakan (sekaligus dalam satu waktu, pent.) oleh seseorang di Jumat terakhir dari Bulan Romadhon, tidak ada dasarnya dalam syariat.
Kemudian kita katakan,
“Apakah orang ini tidak melalaikan, selain lima sholat saja?
Boleh jadi ia telah melalaikan dalam beberapa hari, bukan hanya lima kali sholat. Yang terpenting bahwa seorang manusia selama ia tahu bahwa melalaikan sholatnya, maka ia harus meng-qodho’-nya (menggantinya), kapan saja ia mengetahui hal itu, berdasarkan sabda Nabi –shollallohu alaihi wa sallam-
" من نام عن صلاة أو نسيها فليصلها إذا ذكرها "
“Barangsiapa yang ketiduran dari sholatnya, atau ia lupa sholatnya, maka hendaknya ia menunaikannya ketika ia mengingatnya.”[6]
Adapun seseorang melakukan lima sholat (yakni, “Sholat Kaffaroh”) demi berhati-hati, sebagaimana yang mereka klaim, maka sungguh ini adalah kemungkaran, dan hal itu tidak boleh.”
[Lihat Majmu’ Fatawa wa Rosa’il Fadhilah Asy-Syaikh Muhammad Ibni Sholih Al-‘Utsaimin (12/227_228)]

Fatwa Syaikh Sholih bin Abdillah Al-Fawzan

“Sholat Kaffaroh” atau “Sholat Qodho’ Seumur Hidup” ini juga pernah ditanyakan kepada yang mulia, Syaikh Sholih bin Abdillah Al-Fawzan –hafizhahullah-.

Kata si penanya,
"سؤال: قرأت حديثًا عن الرسول صلى الله عليه وسلم يقول فيه: " من فاتته صلاة في عمره ولم يحصها فليقم في آخر جمعة من رمضان وليصل أربع ركعات بتشهد واحد، يقرأ في كل ركعة فاتحة الكتاب، وسورة القدر خمس عشرة مرة، وسورة الكوثر كذلك، ويقول في النية: نويت أصلي أربع ركعات كفارة لما فاتتني من الصلاة"، فما مدى صحة هذا الحديث؟
 “Aku pernah membaca sebuah hadits dari Rasul –shollallohu alaihi wa sallam-, beliau bersabda,
" من فاتته صلاة في عمره ولم يحصها فليقم في آخر جمعة من رمضان وليصل أربع ركعات بتشهد واحد، يقرأ في كل ركعة فاتحة الكتاب، وسورة القدر خمس عشرة مرة، وسورة الكوثر كذلك. ويقول في النية: نويت أصلي أربع ركعات كفارة لما فاتتني من الصلاة"
“Barangsiapa yang luput dari suatu sholat seumur hidupnya, namun ia tidak lagi mampu menghitungnya, maka hendaknya ia bangkit di Jumat terakhir dari Bulan Romadhon, dan hendaknya ia sholat 4 rakaat dengan satu tasyahhud. I abaca pada setiap rakaat Fatihatul Kitab (Surah Al-Fatihah), Suroh Al-Qodr sebanyak 15 kali, dan Suroh Al-Kautsar juga demikian, dan ia ucapkan dalam niatnya, “Aku berniat melaksanakan sholat 4 rakaat sebagai kaffaroh (penebus) bagi apa yang aku luput darinya berupa sholat”.
Bagaimana tingkat keabsahan hadits ini?

Kemudian Syaikh Sholih bin Abdillah Al-Fawzan –hafizhahullah- menjawab,
الجواب: هذا لا أصل له في سنة الرسول صلى الله عليه وسلم، الذي ثبت عن الرسول صلى الله عليه وسلم أنه قال: «من نسي صلاة أو نام عنها فليصلها إذا ذكرها لا كفارة لها إلا ذلك» ، الصلوات التي تركتها فيما سبق، إذا كنت تركتها لأجل نوم مثلًا أو إغماء أو لعذر ظننت أنه يجيز لك تأخيرها، فالواجب عليك أن تقضيها، وأن تصليها مرتبة، فإذا كنت تركتها متعمدًا فالصحيح___من قولي العلماء أنه عليك التوبة إلى الله؛ لأن من ترك الصلاة متعمدًا فأمره خطير، حتى ولو لم يجحد وجوبها فإن الصحيح أنه يكفر بذلك، فعليك أن تتوب إلى الله إن كنت تركتها متعمدًا، وأن تحافظ على الصلاة في مستقبلك والله يتوب على من تاب.
أما إن كنت تركتها من نوم أو إغماء، أو غير ذلك مما حال بينك وبين أدائها في وقتها، فإنك تقضيها ولا بد، أما أن تصلي هذه الصلاة التي ذكرتها في آخر رمضان، على هذه الصفة، هذا لا أصل له من دين الإسلام، ولا يكفر عنك الصلوات التي تركتها." اهـ من مجموع فتاوى فضيلة الشيخ صالح بن فوزان (1/ 303_304)
“Ini tidak ada dasarnya dalam Sunnah Rasul –shollallohu alaihi wa sallam-.
Yang benar dari Rasul –shollallohu alaihi wa sallam- bahwa beliau bersabda,
«مَنْ نَسِيَ صَلاَةً فَلْيُصَلِّ إِذَا ذَكَرَهَا، لاَ كَفَّارَةَ لَهَا إِلَّا ذَلِكَ»
“Barangsiapa yang lupa sholat atau ketiduran dari sholatnya, maka hendaknya ia mengerjakannya ketika ia mengingatnya. Tidak ada kaffaroh-nya, melainkan hal itu.”[7]
“Sholat-sholat yang engkau tinggalkan dahulu, bila engkau meninggalkannya, karena ketiduran –misalnya-, atau karena pingsan, atau karena adanya uzur yang engkau perkirakan bahwa uzur itu membolehkanmu untuk mengundur sholatmu, maka wajib bagimu untuk meng-qodho’-nya, dan mengerjakannya secara berurutan (waktunya).
Jika engkau meninggalkannya dengan sengaja, maka yang benar dari dua pendapat para ulama bahwa wajib bagimu untuk bertobat kepada Allah.
Karena, barangsiapa yang meninggalkan sholat secara sengaja, maka urusannya amat berbahaya, sekalipun ia tidak mengingkari wajibnya.
Sebab, pendapat yang benar bahwa pelakunya kafir karenanya (yakni, akibat meninggalkan sholat, -pent.).
Wajib bagimu untuk bertobat kepada Allah, bila engkau meninggalkan sholat secara sengaja, dan (wajib) engkau memelihara sholatmu di masa depan.
Allah akan memberikan tobat bagi yang mau bertobat.
Adapun jika engkau meninggalkan sholat karena ketiduran, pingsan, atau karena selainnya yang menghalangi antara engkau dengan penunaian sholat pada waktunya, maka engkau meng-qodho’-nya (menggantinya), dan itu harus!
Adapun engkau mengerjakan sholat (yakni, “Sholat Kaffaroh) ini, sholat yang engkau sebutkan, di akhir Romadhon, dengan gambaran seperti ini, maka ini tidak ada dasarnya dalam agama Islam, dan sholat tersebut tidak akan menebus bagimu sholat-sholat yang pernah engkau tinggalkan.”
[Lihat Majmu’ Fatawa Fadhilah Asy-Syaikh Sholih bin Fawzan (1/303_304)]

Para pembaca yang budiman, setelah kita membaca semua fatwa dari para ulama kita yang mulia -rahimahumullah-, maka tersimpul beberapa perkara :
1)                  “Sholat Kaffaroh” alias “Sholat Qodho’ Seumur Hidup” tidaklah disyariatkan. Demikian pula doa yang ada di dalamnya.

2)                  Karena, “Sholat Kaffaroh” tersebut tidak memiliki landasan dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah yang shohih (benar datangnya) dari Nabi -shollallohu alaihi wa sallam-.

3)                  Hadits tentang “Sholat Kaffaroh” dan tata caranya adalah hadits palsu, bahkan hadits yang la ashla lahu (tidak ada asal-muasalnya di dalam kitab-kitab hadits mu’tabaroh ‘standar’)

4)                  Siapa saja yang mengamalkan “Sholat Kaffaroh” ini, maka ia akan berdosa, karena telah melakukan perbuatan bid’ah (yakni, ajaran dan ibadah yang tidak ada dasarnya dalam agama).

5)                  Barangsiapa yang menyebarkan selebaran tentang “Sholat Kaffaroh” ini, maka ia ikut berdosa. Sebab, ia telah ikut menyebarkan bid’ah.

6)                  Wajib bagi siapa saja untuk mengingkari “Sholat Kaffaroh” ini sesuai dengan kemampuannya, agar bid’ah ini tidak merajalela.  

7)                  Siapa saja yang melakukan suatu ibadah tanpa dasar dalil, maka sungguh ia telah melakukan bid’ah. Karena, suatu ibadah tidak boleh kita kerjakan tanpa dalil syariat yang shohih dari Allah -azza wa jalla- dan Rasul-Nya.

……………………………………

Tulisan ini rampung, 24 Romadhon 1439 H, Masjid Al-Ihsan, Ponpes Al-Ihsan Gowa –harosahullohu minal fitani wa ahliha-, Jalan Likukang, Gowa.




[1] Kitab ini adalah kitab yang penuh dengan hadits-hadits palsu, dan lemah, serta berisi ajaran-ajaran bid’ah dan syirik. [Lihat Majmu’ Fatawa Fadhilah Asy-Syaikh Sholih bin Fawzan (2/696-697)]
Kemudian, di dalam penulisan nama Al-Qohhawi, disitu terjadi kekeliruan. Yang benar, Al-Qomhawi.
[2] HR Al-Bukhoriy dan Muslim.
[3] HR. Al-Bukhoriy dan Muslim.
[4] HR. Muslim dalam Shohih-nya.
[5] HR. Muslim dalam Shohih-nya.
[6] HR. Al-Bukhoriy dan Muslim.
[7] HR. Al-Bukhoriy dan Muslim dari Anas bin Malik –radhiyallahu anhu-.

Komentar